Displaying items by tag: DINAS KESEHATAN NTT

Bagian tubuh yang penting untuk menegaskan fitur khas wanita ini sejatinya berfungsi untuk memberi makan bayi. Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat fungsinya jadi terganggu.

Pertumbuhan dan perkembangan anak memang merupakan fase yang sangat membutuhkan kesabaran yang tinggi dari orangtua, yakni salah satunya susahnya anak untuk makan makanan rumahan yang sangat berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut, apalagi jika anak tersebut masih berada di kategori Golden Period ( 0 hari - 2 Tahun).

 

Paling sebal kalau tiba-tiba kaki Anda sudah gatal-gatal dan bentol-bentol karena digigit nyamuk, tapi saat melirik ke teman si samping Anda, dia kelihatan baik-baik saja. Darahnya manis, kata orang untuk orang yang sering digigit nyamuk.

Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, presyok adalah masa-masa rentan saat virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti menggerogoti tubuh penderitanya.

Kondisi tersebut membuat penderita mengalami gangguan sirkulasi darah, sehingga aliran darahnya menjadi tidak normal. Pendarahan di dalam tubuh pun jadi tak terlihat.

 

Masa kegawatan ini umumnya muncul saat demam tinggi mulai mereda, yakni pada hari ke-3. Oleh karena itu, jangan langsung mengira diri pulih ketika panas sudah turun.

 

Pada orang tua yang tidak paham akan kondisi tersebut. Misalnya, anak akan dibiarkan beraktivitas. Padahal, pada saat itulah orang tua harus waspada.

 

Selain demam tinggi yang mengalami penurunan, tanda-tanda lain presyok DBD yang wajib dikenali antara lain:

 

  • Berkeringat dingin.
  • Tangan dan kaki terasa dingin dan tampak pucat.
  • Muncul bintik-bintik merah.
  • Feses berwarna cokelat kehitaman.
  • Lemas dan gelisah.
  • Jika diperiksa, tekanan darah juga mengalami penurunan.
  • Jika nadi diraba, akan terasa lemah atau terlalu cepat (tidak stabil).

 

Fase Kritis (critical phase)

 

Pada fase kritis, demam tinggi yang dialami pengidap akan berangsur-angsur mereda. Kebanyakan pengidap mengira dirinya sudah sembuh, padahal penurunan suhu tubuh bukanlah pertanda kesembuhan. Sebaliknya, pengidap justru sedang memasuki masa paling berbahaya di mana komplikasi yang bisa mengancam nyawa dapat terjadi.

 

Fase kritis adalah masa di mana pembuluh darah mengalami kebocoran plasma darah yang efeknya menimbulkan tanda-tanda perdarahan pada kulit dan organ lainnya, misalnya mimisan, perdarahan saluran cerna. Hal inilah yang sebenarnya mengakibatkan suhu tubuh menurun. Keluarnya bintik-bintik merah adalah salah satu gejala khas pada fase kritis.

 

Fase kritis demam berdarah bisa dimulai antara 3–7 hari sejak fase demam dan berlangsung selama 24–48 jam. Pada fase ini, cairan tubuh perlu dipantau secara ketat agar tidak kekurangan maupun kelebihan.

 

Pada fase ini, pengidap perlu mendapatkan penanganan medis secepat mungkin. Pasalnya, pengidap berisiko mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang drastis, serta perdarahan yang dapat berujung pada kematian bila tidak ditangani segera.

 

Fase Pemulihan

Fase pemulihan dimulai 48–72 jam setelah fase kritis. Di fase ini, kondisi pengidap akan membaik dan status hemodinamik (aliran darah dalam sistem peredaran tubuh) juga stabil. Cairan yang keluar dari pembuluh darah pun juga akan kembali masuk ke dalam pembuluh darah. Itulah mengapa menjaga cairan tubuh pengidap agar tidak berlebihan sangat penting. Ini karena, cairan yang berlebih dalam pembuluh darah dapat mengakibatkan gagal jantung dan edema paru yang dapat berujung pada kematian.

 

Dalam fase pemulihan, kadar trombosit pengidap juga akan meningkat cepat hingga mencapai 150.000/mikroliter darah, tetapi kemudian akan kembali ke kadar normal.

Mengapa lalat suka berada di tempat kotor? Lalat suka tempat kotor karena itu berarti ada makanan atau untuk menaruh larvanya di tempat kotor tersebut. Menurut Illinois Department of Public Health, lalat bertelur di dalam atau di dekat sumber makanannya, yaitu kotoran, makanan busuk dan bangkai. Itu sebabnya lalat adalah hewan yang suka di tempat-tempat kotor.

Vitamin adalah unsur penting dari makanan yang telah lama diketahui mempengaruhi sistem imun. Vitamin A mendapatkan perhatian khusus dalam beberapa tahun terakhir karena terbukti memiliki efek yang tidak terduga dan penting pada respon imun atau kekebalan tubuh.

 

Meskipun pandemi ini belum berakhir dan membuat banyaknya keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari, apalagi dalam kegiatan Puskesmas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, hal ini tidak mengurunkan niat petugas-petugas puskemas Kupang Kota yang bekerjasama dengan Kader posyandu untuk turun langsung ke masyarakat dan membagikan langsung Vit A tersebut.

Adapun kegiatan ini tidak terlepas dari Protokol Kesehatan yang diberlakukan, kader yang turun langsung pun selalu memakai masker, Face shield dan selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan ini. Ada pun respon yang baik dari masyarakat sendir dalam mendukung kegiatan ini.

 

Meskipun vitamin yang larut dalam air memiliki banyak tugas dalam tubuh, salah satu yang terpenting adalah membantu membebaskan energi yang ditemukan dalam makanan yang dikonsumsi. Sementara itu, manfaat yang lainnya adalah membantu menjaga jaringan tetap sehat dan memperkuat imun tubuh.

 


Vitamin Penting untuk Menjaga Imun Tubuh

 

Vitamin bisa bersumber dari berbagai makanan yang dikonsumsi atau suplemen khusus. Namun, sebelum kamu mengonsumsi suplemen vitamin khusus, sebaiknya kamu bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc sesuai kebutuhan tubuh akan vitamin.


Nah, peningkatan daya tahan tubuh bisa kamu dapatkan melalui beberapa vitamin berikut ini:

 

Vitamin C. Merupakan salah satu nutrisi terbaik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kekurangan vitamin C bisa membuat tubuh rentan terserang penyakit. Vitamin C memperkuat sistem imun tubuh dan melindungi tubuh dari berbagai infeksi. Antioksidan yang terkandung dalam vitamin C yang mampu melindungi tubuh dari radikal bebas.

Vitamin D: Vitamin ini baik untuk menjaga imunitas tubuh. Ia mampu memperkuat tubuh dalam melawan zat patogen. Konsumsi vitamin D mampu mengurangi risiko terjadinya infeksi pernapasan. Hal ini tentunya penting untuk menjaga kesehatan tubuh di masa-masa pandemi seperti ini.

 

Vitamin E: Vitamin E memiliki sifat antioksidan yang baik untuk melawan serangan radikal bebas. Kamu bisa menemukan vitamin E yang terkandung dalam makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, bayam, hingga biji bunga matahari.

Vitamin B Kompleks: Yaitu termasuk B6 dan B12, keduanya berperan penting untuk menjaga sistem imun tubuh. Kebanyakan orang dewasa mengalami kekurangan vitamin ini. Kamu bisa menemukannya dalam kandungan sereal, loh.

Zinc: Zinc bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Vitamin ini diperlukan dalam proses perkembangan sel kekebalan tubuh yang berfungsi untuk memerangi inflamasi. Orang yang kekurangan nutrisi ini biasanya berisiko lebih tinggi mengalami berbagai infeksi dan penyakit, termasuk pneumonia. Kandungan zinc bisa kamu temukan dalam tiram, kepiting, daging tanpa lemak, kacang buncis, dan yoghurt.

Vitamin yang Larut dalam Lemak

 

Kebanyakan vitamin larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak masuk ke darah melalui saluran getah bening di dinding usus. Banyak vitamin yang larut dalam lemak berjalan melalui tubuh hanya di bawah pengawalan protein yang bertindak sebagai pembawa.

 

Makanan berlemak dan berminyak adalah reservoir bagi vitamin yang larut dalam lemak. Di dalam tubuh, jaringan lemak dan hati bertugas sebagai penahan utama vitamin-vitamin dan melepaskannya sesuai kebutuhan.

 

Sampai batas tertentu, kamu bisa menganggap vitamin ini sebagai mikronutrien. Kamu mungkin saja mengonsumsi suplemen vitamin sesekali, atau dalam dosis mingguan atau bulanan. Sebab tubuh akan membuang kelebihan dan membuangnya secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan tubuh kamu.

 

Apa Hubungan Vitamin A dengan Daya Tahan Tubuh Si Buah Hati?

Vitamin A merupakan sebuah mikronutrien yang penting dalam menjaga kesehatan penglihatan, namun vitamin ini juga dikenal sebagai vitamin anti inflamasi karena peran pentingnya dalam meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Vitamin A memproduksi penghalang serta menjadi garis pertahanan tubuh Si Buah Hati karena vitamin ini membentuk antibodi yang berperan dalam melenyapkan penyebab infeksi.

 

Anak-Anak Rentan Kurang Asupan Vitamin A

 

Faktanya, di tahun 2013, menurut data WHO hampir 1/3 dari anak-anak dari seluruh dunia berusia 6-59 bulan mengalami kekurangan asupan vitamin A. Ini berarti masih sangat banyak anak-anak dari berbagai penjuru negara, termasuk Indonesia, yang tidak mendapatkan asupan vitamin A cukup setiap harinya. Padahal kekurangan vitamin A di masa kecil bisa memiliki dampak yang kurang baik bagi kesehatan anak-anak

Protokol ini tidak diperuntukkan bagi semua orang. Berikut adalah orang-orang yang disarankan untuk melakukan protokol isolasi mandiri:

 

 

  • Memiliki salah satu dari gejala COVID-19 yang ringan, seperti batuk, demam, atau sakit tenggorokan yang bisa diatasi di rumah, dan tidak memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, atau penyakit paru yang kronis
  • Terkonfirmasi positif COVID-19 dengan tes PCR, tapi tidak mengalami gejala atau hanya mengalami gejala ringan
  • Tinggal dengan orang yang memiliki gejala COVID-19
  • Telah menjalani rapid test COVID-19 dan hasilnya positif, namun tidak mengalami gejala atau jika hasil rapid test COVID-19 negatif dan menunggu pemeriksaan lanjutan
  • Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah yang endemis COVID-19 (baik di dalam maupun di luar negeri) dalam 14 hari terakhir

 

 

Protokol Isolasi Mandiri yang Perlu Diterapkan

Bila Anda memiliki gejala atau kontak erat dengan orang yang memiliki gejala, Anda harus bertanggung jawab untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, setidaknya selama 14 hari. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda lakukan selama isolasi mandiri di rumah sesuai anjuran pemerintah:

 

  1. Tidak beraktivitas di luar rumah

Apabila sedang dalam isolasi, Anda tidak boleh keluar rumah atau pergi ke tempat-tempat umum walaupun untuk bekerja. Jika memungkinkan, bekerjalah dari rumah selama isolasi. Namun, apabila sakit, Anda dianjurkan untuk beristirahat dulu untuk sementara waktu hingga pulih.

 

Bila tadinya Anda memiliki gejala dan sembuh dalam waktu kurang dari 14 hari, Anda tetap harus tinggal di rumah dan menunggu hingga masa isolasi selesai. Sebisa mungkin, hindari menerima tamu.

 

Apabila selama masa isolasi ada keperluan ke luar rumah, seperti membeli makanan ataupun obat-obatan, mintalah orang lain yang tidak sedang menjalani isolasi untuk melakukannya. Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi layanan online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

  1. Hindari kontak dekat dengan orang yang tinggal serumah

Selama di rumah, Anda disarankan untuk berada di kamar yang terpisah dengan penghuni rumah lainnya. Kamar disarankan memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik.

 

Meski begitu, bukan berarti Anda harus selalu berada di dalam kamar tersebut dan orang lain tidak boleh masuk. Hal ini diperbolehkan, asalkan tetap dalam batasan tertentu.

 

Saat sedang berada dalam satu ruangan dengan penghuni rumah lainnya, jaga jarak atau lakukan physical distancing, terutama dengan orang yang rentan terhadap COVID-19, seperti lansia, pemilik penyakit kronis, dan ibu hamil. Jaga jarak setidaknya sejauh 1 meter dan hindari bicara berhadap-hadapan dengan orang lain lebih dari 15 menit.

 

  1. Pakai masker

Meski di rumah, Anda tetap disarankan untuk mengenakan masker, yaitu masker jenis surgical mask, guna mencegah penularan kepada keluarga atau orang yang berada dalam satu rumah dengan Anda.

 

Apabila tidak ada masker, Anda disarankan untuk tidak berlama-lama dalam satu ruangan dengan penghuni rumah yang lain. Bila salah satu penghuni rumah masuk ke dalam kamar isolasi, misalnya untuk mengantarkan makanan, Anda disarankan untuk memakai masker kain untuk mengurangi risiko penularan.

 

  1. Gunakan perlengkapan terpisah

Selama menjalani isolasi mandiri, gunakan piring, sendok, garpu, dan gelas terpisah. Perlengkapan mandi, seperti handuk dan sikat gigi, juga harus terpisah dari penghuni rumah lainnya.

 

Selain itu, sediakan tempat sampah atau kantung plastik khusus untuk membuang tisu yang Anda gunakan untuk batuk, bersin, dan membersihkan mulut atau hidung. Anda juga disarankan untuk rutin membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti wastafel, gagang pintu, atau telepon, dengan cairan disinfektan.

 

  1. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat

Cucilah tangan Anda dengan air dan sabun secara rutin. Jangan lupa minum banyak air, setidaknya 8 gelas sehari, serta konsumsi makanan yang bergizi. Anda juga disarankan untuk berjemur dan melakukan olahraga ringan di bawah sinar matahari setiap pagi selama 15–30 menit agar tubuh Anda lebih bugar dan lebih cepat sembuh.

 

Pantau kesehatan Anda secara mandiri, yaitu dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan mengamati gejala yang muncul. Bila demam, Anda bisa mengonsumsi obat yang mengandung paracetamol sesuai aturan pakai yang tertera pada kemasan obat.

 

Selain itu, tetaplah menjalin hubungan dengan anggota keluarga dan teman melalui telepon, video call, atau media sosial. Jangan sampai isolasi di rumah membuat Anda merasa tersisih dan kesepian.

 

  1. Hubungi rumah sakit

Apabila di tengah masa isolasi muncul keluhan baru atau keluhan yang Anda alami jadi memberat, misalnya demam tinggi disertai batuk terus-menerus dan sulit bernapas, segera hubungi rumah sakit atau hotline COVID-19 untuk mendapatkan perawatan.

 

Agar orang lain tidak tertular, Anda disarankan untuk tetap berada di rumah. Bila memang diperlukan, rumah sakit akan mengirim ambulans khusus untuk menjemput Anda.

Isolasi di rumah bisa menjadi hal yang berat bagi sebagian orang. Namun, cara sederhana ini efektif untuk melindungi Anda, keluarga dan orang-orang di sekitar Anda, bahkan seluruh masyarakat Indonesia dari COVID-19.

 

Terlepas dari ada atau tidaknya gejala dan kontak dengan orang yang menderita atau dicurigai menderita COVID-19, setiap orang disarankan untuk tinggal di rumah dan membatasi aktivitas di luar rumah, terutama yang melibatkan banyak orang. Bila memungkinkan, mintalah pilihan untuk bekerja atau belajar dari rumah.

 

Pasalnya, virus Corona atau SARS-CoV-2 dapat menyebar bahkan dari orang yang tidak merasakan gejala. Jadi, seseorang bisa saja tertular atau menularkan virus ini tanpa menyadarinya.

 

Bila masih ragu apakah Anda perlu melakukan isolasi mandiri di rumah atau kapan Anda bisa dinyatakan sembuh dan keluar dari isolasi, berkonsultasilah dengan dokter melalui chat di aplikasi Alodokter. Selain itu, Anda juga bisa melakukan konsultasi di aplikasi ini mengenai masalah kesehatan apa pun, baik yang terkait COVID-19 maupun yang tidak, sehingga Anda tidak perlu keluar rumah.

 

Seperti dilansir : https://www.alodokter.com/bantu-cegah-penyebaran-covid-19-inilah-protokol-isolasi-mandiri-yang-perlu-diterapkan

Terapi plasma darah adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara menggunakan plasma darah yang mengandung antibodi virus corona dari orang yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, mengatakan, vaksinasi Covid-19 bertujuan menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) dan kekebalan individu terhadap virus corona.  Oleh karena itu, semua orang harus mendapatkan vaksin, baik yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19 maupun yang tidak. "Tidak ada perbedaan sebetulnya antara yang sudah terinfeksi dan tidak, sama-sama harus divaksinasi.

 

Secara ilmiah sebetulnya harus divaksin karena mereka (yang pernah terinfeksi dan belum pernah) sama-sama bisa terinfeksi," kata Dicky pada Kompas.com, Sabtu (9/1/2021). Ia mengatakan, orang-orang yang terinfeksi virus corona di Indonesia mayoritas tidak bergejala atau mengalami gejala ringan. Oleh karena itu, kemungkinan antibodi yang dikembangkan tubuh sangat kecil sehingga perlu divaksin. Baca juga: 4 Tahapan Vaksinasi Covid-19 dan Jadwal Pelaksanaannya Akan tetapi, pengecualian bagi beberapa golongan. "Orang yang terinfeksi tetap harus divaksin, kecuali misalnya orang itu dirawat di ICU belum lama atau sakit parah, umumnya kecenderungannya memiliki antibodi yang lebih besar atau kuat," ujar Dicky. Dia juga mengingatkan, sebaiknya pendataan orang-orang yang mendapatkan vaksin dilakukan secara cermat. Bagi mereka yang pernah terinfeksi dan tidak terinfeksi, harus dibedakan untuk memudahkan penilaian akhirnya.

 

Melansir laman Kemenkes, 22 Juli 2020, salah satu penelitian di Jerman menunjukkan bahwa jumlah antibodi pada tubuh pasien Covid-19 turun bahkan hilang secara signifikan, yakni setelah dua atau tiga bulan. Baca juga: Saat Pemerintah Berjanji Tanggung Biaya Perawatan Efek Samping Vaksinasi Covid-19... "Antibodi yang menghentikan serangan virus, menghilang hanya dalam waktu dua sampai tiga bulan pada 4 dari 9 pasien yang dimonitor," kata dokter kepala di rumah sakit Schwabing di München Jerman, Clemens Wendtner. Hasil pemantauan tersebut juga sama dengan investigasi yang sudah dilakukan di China.

 

Riset di China juga menunjukkan, antibodi virus SARS-CoV-2 pada eks pasien Covid-19 tidak ada lagi dalam darah mereka. Dalam kondisi seperti itu, pasien bisa kembali terinfeksi virus corona karena tidak lagi memiliki perlindungan atau kekebalan tubuh.

 

 

Seperti dilansir

https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/10/193100665/ini-alasan-semua-orang-harus-divaksinasi-covid-19?page=all

Waspadalah waspadalah dimusim penghujan ini banyak menimbulkan penyakit yang beresiko tinggi, salah satunya Demam Berdarah Dengue yang sudah tidak asing lagi diantara kita

Halaman 1 dari 4